MENOLAK LUPA; MENGENANG DAN MENGINGAT KEMBALI PARA PAHLAWAN DALAM PERISTIWA G30S PKI

 


57 tahun silam, sejarah kelam pernah terjadi di Indonesia tepatnya pada tahun 1965. Tragedi pembantaian 6 Jenderal 1 Perwira menyisakan cerita tragis dikalangan masyarakat Indonesia pada era  Kepemimpinan Soekarno sampai sekarang. Mereka pun kini ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi sejak diresmikannya UU Nomor 20 tahun 2009, gelar tersebut sudah diakui sebagai Pahlawan Nasional. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau yang biasa sering didengar dengan sebutan G30S/PKI. Di era pemerintahan Presiden Soeharto, Gerakan 30 September 1965/PKI ini selalu diperingati setiap tanggal 30 September. Tak hanya itu, di tanggal 1 Oktober juga diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Hal tersebut dilakukan sebagai cara untuk mengenang jasa ketujuh Pahlawan Revolusi dan korban lainnya yang telah gugur dalam tragedi tersebut. Banyak perspektif yang berkembang tentang latar belakang terjadinya Gerakan ini, diantaranya yaitu adanya tujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno dan menginginkan pemerintah Indonesia berubah menjadi pemerintahan komunis dengan berusaha untuk mengubah landasan Negara namun tidak berhasil. Maka dari itu, di tanggal 1 Oktober diperingati Sebagai Hari Kesaktian Pancasila sebab sebagai bentuk penegasan bahwa Pancasila sebagai asas ideologi Indonesia dan tidak bisa diganti dengan ideologi apapun.

Peristiwa G30S PKI ini telah dimuat dalam film dokumenter yang resmi dirilis pada tahun 1984. Film tersebut diproduksi oleh pusat produksi Film Negara, pada era kepresidenan Soeharto. Namun film ini diduga hanya sebagai propaganda politik saja sebab, film ini sempat menjadi sebuah tontonan wajib bagi anak sekolahan dimana selalu ditayangkan di TVRI setiap tanggal 30 September. Namun setelah masa jabatan pak Soeharto berakhir atau di era Revormasi, film ini tak lagi wajib ditayangkan bahkan adanya pro kontra yang hadir ditengah-tengah masyarakat tentang film yang dianggap tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya. Dan tidak sedikit pula orang berpendapat bahwa Soeharto memaksa masyarakat mengakui kepatriotannya dengan mewajibkan pemutaran film G30S/PKI di kalangan pelajar, dimana isi dari film tersebut hanya untuk menggiring opini masyarakat bahwa PKI yang bersalah. Hingga sekarang ini, beberapa bentuk peringatan yang dilakukan untuk mengenang jasa para pahlawan dalam tragedi tersebut masih dengan memutar dan mengulik kembali kejadian pada saat itu. Bahwa sebenarnya ada hal lain yang bisa kita lakukan dalam memperingati tragedi ini tanpa harus memutar kembali film dokumenter yang notabene isi filmnya masih menuai pro kontra, yaitu dengan cara doa bersama untuk para pahlawan dan korban tragedi tersebut. Ada beberapa stereotipe terhadap PKI ini jika dilihat dengan dianalogikan sebagai sebuah wadah maka PKI tidak akan disalah artikan seperti sekarang, sebab PKI bagaikan wadah atau organisasi yang secara fundamental benda mati dan yang menghidupkannya ialah orang-orang yang bernaung didalamnya sebagai pengelolahnya. Partai ini sempat menjadi tameng pertahanan kebanggaan pak Soekarno dalam peristiwa “Ganyang Malaysia”.namun setelah adanya kejadian pembunuhan secara tragis yang dilakukan oleh orang-orang PKI tehadap jenderal-jenderal membuat pak Soekarno harus membubarkan partai komunis ini hingga ke akar-akarnya karena dianggap akan memicu pemberontakan lanjutan. Peristiwa G30S PKI merupakan misteri yang rahasia dan kebenarannya belum terungkap sepenuhnya. Mencari tahu mengenai kebenaran sejarah kelam dari bangsa Indonesia kita ini juga bisa dengan cara membaca buku-buku yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Karena tragedi berdarah G30S PKI seharusnya memang tidak boleh dilupakan dan dijadikan sebagai pembelajaran supaya nantinya tidak terulang lagi. Dari peristiwa ini kita bisa melihat bahwa posisi Pancasila sebagai dasar negara menjadi lebih kuat. Menambah kewaspadaan kita terhadap paham komunis. Pelajaran yang dapat kita ambil dengan adanya peristiwa G30S PKI ini adalah kita harus memahami betul bahwa kontroversi dan propaganda melahirkan kebingungan dan mengakibatkan adanya pergerakan semaunya sendiri tanpa mepertimbangkan orang lain. Adanya perebutan kekuasaan didalam suatu bangsa dan negara akan selalu mengundang permasalahan, baik dalam lingkup kelompok kecil maupun besar.

Semoga adanya bahan bacaan ini bisa menambah wawasan dan meningkatkan rasa cinta ke tanah air hingga perhatiannya kita terhadap peristiwa-peristiwa yang bersejarah.

Comments

Popular posts from this blog

STRUKTUR KEPENGURUSAN HIMPUNAN MAHASISWA SOSIAL EKONOMI PERTANIAN (HIMASEP) FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TADULAKO PERIODE 2022

"PERINGATAN HARI PENDIDIKAN NASIONAL HIMASEP UNTAD" (Bidang Advokasi)