"PERINGATAN HARI PENDIDIKAN NASIONAL HIMASEP UNTAD" (Bidang Advokasi)
Pendidikan adalah cara terbaik untuk mendobrak kemajuan pertanian dalam mensejahterakan petani, baik itu secara formal maupun non formal, karna dengan pendidikan petani mendapatkan pengetahuan untuk bisa berkreasi dalam mengembangkan segala bentuk pertanian, dari pembibitan, penanaman, pemanenan, hingga sampai kepada pengolahan hasil pertanian itu menjadi dalam bentuk sebuah produk atau barang jadi. Tentunya hal ini tidak lepas dari dukungan pemerintah, sebagai pembuat kebijakan khusunya di bidang pertanian..
Sekali kita berbicara tentang petani, di situlah kita berbicara tentang kaum tani. Kita dapat menjumpai para tuan tanah, petani penggarap, kapitalis pertanian, buruh tani (istilah Tan Malaka atau proletar tanah) petani gurem dan petani menengah.
- Tuan tanah adalah orang yang memiliki tanah berhektar-hektar dan menyewakannya kepada para penggarap.
- Kapitalis pertanian adalah orang yang memiliki tanah berhektar-hektar dan menjadikannya lahan-lahan agrobisnis (para kapitalis pertanian).
- Petani gurem adalah orang yang hanya memiliki dan menggarap sejengkal tanah untuk mempertahankan hidup.
- Petani penggarap adalah orang yang menyewa dan menggarap tanah orang lain, dengan hasil “bersih” yang hanya bisa digunakan untuk menyambung hidup.
- Buruh tani adalah orang yang menjual tenaga mereka kepada para kapitalis pertanian dan bekerja di lahan-lahan agrobisnis mereka, demi sepeser upah yang hanya bisa digunakan untuk bertahan hidup.
- Petani menengah (farmer) adalah orang yang memiliki lahan yang diandalkan untuk menghasilkan panenan yang bisa “dilempar” ke pasar hasil-hasil pertanian namun sangat bergantung pada kebijakan pemerintah terhadap pasar tersebut.
Dari pembahasan di atas kita dapat menemukan
setidaknya 3 hal yaitu :
Pertama, eksploitasi (penghisapan) secara langsung dan vulgar terjadi di antara tuan tanah dan kapitalis pertanian di satu sisi dan petani penggarap dan buruh tani di sisi lain. Dengan kata lain, tuan tanah dan kapitalis pertanian adalah kaum penghisap, sedangkan petani penggarap dan buruh tani adalah kaum yang terhisap.
Kedua, petani gurem dan petani menengah tidak mengalami penghisapan secara langsung dan vulgar, tetapi menjadi pihak yang selalu kalah. Petani gurem berusaha bertahan hidup dengan menggulati tanah yang hanya sejengkal, “kemurahan” alam, dan hama, dengan perkakas pertanian yang sederhana serta dibebani harga pupuk, tengkulak, dan rentenir. Kekalahan dalam pergulatan itu akan membuatnya menjadi buruh tani atau pergi mencari pekerjaan di kota dengan kemungkinan menjadi buruh, kuli bangunan atau malah menjadi pengayuh becak.
Sedangkan petani menengah berusaha mengembangkan
perekonomiannya di hadapan tantangan alam dan hama di satu sisi serta kapitalis
pertanian di sisi lain. Sehubungan dengan tantangan alam dan hama, serta harga
pupuk, tengkulak, dan rentenir petani menengah relatif lebih kuat daripada
petani gurem. Tapi ketika berhadapan dengan kapitalis pertanian, yang bisa
mempengaruhi kebijakan pemerintah terhadap pasar, petani menengah tidak
berdaya. Padahal kekalahan dalam pertarungan dengan kapitalis pertanian akan
berdampak pada kemampuannya dalam menghadapi “musuh-musuh”. Bila cukup
beruntung, ia bisa bertahan untuk beberapa waktu lamanya. Bila tidak, ia akan
terhempas dan menjadi petani gurem bahkan bangkrut dan menjadi buruh tani. Bila
cukup “cerdik”, dan pada saat yang sama si kapitalis pertanian “berbaik hati”,
petani menengah akan menginduk pada si kapitalis pertanian, menjadi mitra
junior si kapitalis pertanian, dan menjadi kaum yang dieksploitasi namun hampir
pasti menerima tetesan-tetesan berkat dari si kapitalis pertanian.
Ketiga, semua wujud dari kalangan petani mempunyai
hubungan yang langsung walaupun beragam kepemilikan tanah. Bagi para tuan
tanah, kapitalis pertanian, dan petani menengah, fungsi utama tanah adalah
untuk mendatangkan profit (keuntungan). Sedangkan bagi para petani gurem,
petani penggarap, dan buruh tani, fungsi utama tanah adalah subsistensi, yakni
untuk mempertahankan hidup mereka dan keluarga mereka.
Dalam
kenyataannya, sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa
pemberontakan-pemberontakan kaum tani kecil memiliki ciri yang sama yaitu
menuntut kepemilikan pribadi atas tanah. Sejarah juga menunjukkan bahwa dalam
tiap-tiap konflik agraria, petani gurem dan petani menengah berusaha
mempertahankan kepemilikan pribadi mereka atas tanah, demikian juga para tuan
tanah dan kapitalis pertanian.
Jika kita berbicara tentang Indonesia yang merupakan
negara pertanian, yang artinya pertanian memegang peranan yang sangat penting
sebagai penggerak ekonomi negara. Selain diuntungkan oleh kondisi iklim dan
sumber daya alam yang mendukung, pertanian di Indonesia juga didukung oleh
sumber daya manusianya. Sehingga negara Indonesia dikatakan sebagai negara
agraris yang cukup produktif. Sehingga pendidikan sangat penting bagi
kesejahteraan petani.
Sebenarnya
pertanian bukan hanya penting untuk menstabilkan ekonomi negara. Tetapi,
pertanian juga sangat penting untuk kelangsungan hidup, dengan bertani kita
bisa bertahan hidup, dengan bertani pula kita bisa sejahtera. Hanya saja sampai
saat ini kita belum bisa merasakan hal tersebut dikarenakan kurangnya kesadaran
kita dalam memandang dunia pertanian.
Kenapa hasil pertanian di Indonesia masih
begini-begini saja? Karena para petani juga bercocok tanam dengan cara
begini-begini saja, tidak ada kemajuan, kebiasaan-kebiasaan yang sering mereka
lakukan dari tahun ke tahun, yaitu kebanyakan dari petani pada saat melakukan
penanaman dan panen mereka bersemangat, tetapi pada saat melakukan perawatan
mereka acuh tak acuh.
Hal
ini terjadi karena mereka masih kurang memahami bahwa perawatan merupakan salah
satu yang penting dalam bercocok tanam. Selain itu, semakin hari petani juga
semakin kurang, karena rata-rata petani sekarang sudah memasuki usia senja,
jadi tenaga mereka sudah mulai berkurang, ditambah lagi kurangnya minat anak
muda untuk menjadi seorang petani karena kebanyakan dari mereka belum paham
tentang dunia pertanian.
Salah satu kendala yang selalu membuat para petani
gagal dalam meningkatkan hasil pertanian, yaitu mereka masih ikut-ikutan
terutama dalam menggunakan produk untuk bercocok tanam. Padahal mereka belum
mengetahui isi, kandungan, manfaat dan efek samping yang ditimbulkan dari
produk tersebut.
Misalnya,
ada petani yang bertanya ke petani yang lain untuk meminta solusi pupuk yang
bagus digunakan untuk tanamannya. Kemudian petani tersebut menyebutkan merek
pupuk yang katanya bagus itu tanpa bertanya terlebih dahulu tentang ciri-ciri
tanamannya tersebut. Jadi, jangan heran kalau tanaman yang kita harapkan
pertumbuhannya cepat justru mengalami pertumbuhan yang lambat.
Misalnya,
ada petani yang bertanya ke petani yang lain untuk meminta solusi pupuk yang
bagus digunakan untuk tanamannya. Kemudian petani tersebut menyebutkan merek
pupuk yang katanya bagus itu tanpa bertanya terlebih dahulu tentang ciri-ciri
tanamannya tersebut. Jadi, jangan heran kalau tanaman yang kita harapkan
pertumbuhannya cepat justru mengalami pertumbuhan yang lambat.
Hal ini terjadi, karena kita memberikan pupuk ke tanaman tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh tanaman, saat tanaman membutuhkan unsur posfor kita kasih unsur nitrogen sehingga respon tanaman menjadi lambat.
Kemudian penggunaan merek pestisida yang sama dapat mengakibatkan resiko gagal panen karena pada saat kita mengendalikan hama selalu menggunakan merek pestisida yang sama, hama tersebut akan mengalami kekebalan tubuh sehingga resisten terhadap pestisida yang kita gunakan, jika hal ini terjadi terus menerus lama kelamaan akan terjadi peledakan hama. Jika sudah terjadi peledakan hama, maka sulit lagi untuk dikendalikan .
Selain itu, petani juga belum konsisten dalam
bertani karena yang sering terjadi selama ini kebanyakan petani masih melihat
harga dari hasil pertanian. Misalnya petani menanam kakao, tiba-tiba petani
tersebut mendengar harga kelapa sawit naik ditebanglah kakaonya dan digantikan
dengan tanaman kelapa sawit. Lagi-lagi ini terjadi karena kurangnya pemahaman
mereka tentang siklus pertanian bahwa yang namanya harga hasil produksi memang
selalu naik turun. Sehingga peristiwa seperti ini terkadang membuat para petani
pesimis karena mereka selalu gagal dalam bertani.
Dikondisi seperti ini lulusan pertanian sangat berperan penting dalam memberikan contoh yang baik sebagai generasi penerus bangsa untuk meningkatkan sektor pertanian di negara kita. Sudah saatnya kita untuk muncul dipermukaan, kita adalah para ahli pertanian yang sudah dipercayakan untuk membantu dan mengarahkan para petani. Kasihan para petani yang masih bingung memikirkan hasil panennya yang selalu dibawah standar, bahkan mereka, selalu mengalami gagal panen. Hal ini, disebabkan karena adanya berbagai macam masalah yang mereka hadapi dilapangan baik dari serangan hama dan penyakit ataupun dari masalah musim yang sulit mereka prediksi. Padahal menurut para petani, mereka sudah melakukan cara bercocok tanam yang baik. Nah, ini merupakan salah satu fungsi kita sebagai lulusan pertanian untuk mencarikan solusi dari setiap masalah yang mereka temukan di lapangan.
Lulusan pertanian bisa mengarahkan para petani agar
terbiasa menggunakan bahan organik. Bahan organik memiliki banyak kelebihan
seperti memperbaiki struktur tanah, membantu mempercepat proses pertumbuhan
karena mangandung unsur hara yang lengkap, ekonomis, mudah didapatkan dan ramah
lingkungan. Selain itu, bahan organik juga aman untuk digunakan, semakin banyak
digunakan di tanah semakin bagus karena bakteri menguntungkan yang terdapat
dalam bahan organik akan membantu dalam proses menyuburkan tanah. Ketika tanah
subur, otomatis pertumbuhan tanaman akan semakin bagus.
Saat
ini, salah satu faktor yang menjadi kendala adalah kesadaran kita masih kurang
dalam memandang pentingnya dunia pertanian. Sehingga masyarakat masih
meremehkan bahwa sektor pertanian di negara kita bisa meningkat. Padahal kita
mengetahui sektor pertanian merupakan kebutuhan negara dalam melawan berbagai
macam krisis.
Terkadang
harus terjadi bencana dulu, seperti pandemi yang terjadi saat ini barulah kita
sadar betapa pentingnya bahan makanan yang dihasilkan oleh sektor pertanian
ataukah kita harus kesusahan dulu, agar kita sadar bahwa hanya tolong menolong
kepada orang terdekatlah yang dapat membantu dan haruskah kita berada dikondisi
seperti ini, baru bisa menyadarkan kita bahwa yang menjadi tumpuan kita saat
ini adalah petani lokal. Maka dari itu, pembangunan sektor pertanian jangan
dilupakan bahkan sangat perlu perhatian dan fokus pemerintah, agar sektor
pertanian kita bisa berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan.
Pertanian
di Indonesia bisa saja meningkat, jika memiliki perhatian yang cukup serius
dari pemerintah serta lulusan pertanian dan para petani juga memiliki peranan
yang sangat penting dalam menjalin kerjasama yang baik untuk mengembangkan sektor
pertanian. Sebab pertanian bisa berkembang jika ada campur tangan dari ahlinya
yaitu para lulusan pertanian. Setiap tahun lulusan pertanian semakin meningkat
tetapi minat untuk bergabung di lingkungan pertanian masih kurang, sehingga ini
merupakan salah satu faktor sektor pertanian kita masih stagnan. Padahal
lulusan pertanian bisa menciptakan inovasi-inovasi baru untuk membuat
produk-produk organik yang dapat membantu petani dalam meningkatkan kualitas
hasil pertanian, mereka juga bisa mengarahkan petani dalam bercocok tanam yang
baik dan benar sesuai dengan ilmu yang mereka dapatkan serta petani bisa
optimis bekerja dalam mengelola lahannya dengan baik.
Jangan
harap sektor pertanian kita bisa berkembang jika hubungan antara pemerintah,
lulusan pertanian dan para petani belum terjalin dengan baik. Salah satu cara
supaya keinginan kita bisa terwujud, yaitu saling mendukung satu sama lain
karena jika kita hanya sekedar saling mengharap, masyarakat terus berharap
kepada pemerintah, sedangkan pemerintah sendiri pun juga berharap kepada
petani. Kapan kita bisa mewujudkan impian untuk meningkatkan hasil pertanian,
jika kita masih terus-terusan seperti ini selalu mengharap sesuatu yang belum
pasti. Saat ini, bukan lagi waktunya untuk saling berharap.
Sekarang waktunya untuk berkerjasama dan konsisten
dalam membangun pertanian di Indonesia dengan cara pemerintah harus
memperhatikan sarana dan pra sarana yang dapat menunjang sektor pertanian,
lulusan pertanian harus fokus memberikan arahan dan serius dalam menangani
berbagai macam masalah yang dihadapi oleh petani serta petani harus konsisten
pada saat melakukan bercocok tanam dan optimis dalam mengelolah lahannya.
Sebab, kita tahu selain pertanian bisa menjadi penggerak ekonomi negara, pertanian
juga bisa menyejahterakan hidup kita. Buktikan, jika negara kita dikatakan
sebagai negara agraris, maka tidak ada lagi yang merasa kesusahan dan
kelaparan, semua akan terlihat bahagia. pentingnya pendidikan bagi
kesejahteraan petani.
Adapun
mengenai BUMDes, petani harus bisa memahami manfaat dari BUMDes tersebut.
Pedoman bagi daerah dan desa dalam pembentukan dan pengelolaan BUMDes Badan
Usaha Milik Desa (BUMDes) yaitu mengacu pada Permendesa Nomor 4 Tahun 2015
tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik
Desa. Kita masih mendapati ratusan bahkan sampai ribuan desa yang bahkan sampai
hari ini belum mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pun yang sudah
memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) masih terkesan hanya papan nama dan
mati suri.
Tidak
adanya pemahaman bersama untuk kita ketahui, bahwa pemahaman bersama mengenai
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) belum benar-benar sampai kepada masyarakat. Hal
ini diawali dari pemahaman perangkat desa terutama kepala desa mengenai Badan
Usaha Milik Desa (BUMDes) yang juga masih sangat kurang. Kondisi ini
dikarenakan selama ini posisi perangkat desa dan kepada desa adalah hanya
pelaksana tugas atau sebagai kepanjangan tangan dari struktur pemerintah di
atasnya yaitu lebih banyak berurusan dengan masalah administrasi dan
menanggungjawab proyek dan program yang datang dari atas.
Oleh karena itu keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tidak serta merta dapat dipahami, perlu kerja keras untuk benar-benar dapat memahami Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang lebih bertumpu pada masalah kewirausahaan dan kemandirian ekonomi desa. Karena pemahaman mengenai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di kalangan perangkat desa masih sangat lemah, maka wacana Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tidak tersosialisasi dengan baik kepada warga desa. Sehingga tidak tumbuh pemahaman bersama tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan urgensi dari pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bagi desa dan masyarakat.
Kemudian tidak ada keterbukaan informasi publik di desa yang masih menjadi kendala yang banyak kita temukan di desa-desa. Pusat informasi masih berada di antara elite desa, belum sampai kepada masyarakat secara luas. Sehingga isu-isu penting, program-program yang ada hanya diketahui oleh segelintir orang atau elite-elite desa. Ketidak tahuan masyarakat atas informasi penting seputar desa menjadikan program hanya diisi atau diikuti oleh orang itu-itu saja, atau istilahnya lingkaran keluarga perangkat desa dan kepala desa.
Maka, ketika mendirikan Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes) pun pada akhirnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam kepengurusan
atau strukturnya diisi oleh orang-orang dekat kepala desa atau bahkan
keluarganya sendiri. Bisa ditebak, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) kemudian
berdiri seperti badan usaha milik keluarga, usaha yang dijalankan pun tidak
berdampak pada kemaslahatan masyarakat.
Maka tidak heran jika Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes) yang diawali dari sistem semacam ini kemudian mati suri karena dalam
proses usaha tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat sebagai bagian dari
modal sosial dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Dan
yang paling bermasalah yaitu adanya perilaku koruptif yang masih menjadi
pekerjaan rumah pemerintah juga kita sebagai warga negara. Perilaku ini sangat
mencederai prinsip bernegara sebagai sebuah bangsa yang besar berlandaskan
hukum dan moral. Banyaknya perilaku kekuasaan yang koruptif pada struktur atas,
menciptakan perubahan sosial untuk masyarakat menjadi loyo dan tidak
mendapatkan tempat.
Perilaku
koruptif di kalangan atas tidak menutup kemungkinan perilaku yang sama juga
terjadi di kalangan pemerintah desa. Walau perih, kita masih harus menerima
kenyataan bahwa masih ada ratusan kepala desa yang saat ini menghadapi meja
hijau karena diduga menyalahgunakan dana desa untuk kepentingan dirinya sendiri
atau kepentingan kelompok.
Sekian
Hormat
kami bidang advokasi
Salam
cinta
Salam
perjuangan
Karena atas nama cinta kita berjuang.
#Dokumentasi Multimedia Himasep
SALAM PROFESI...
SALAM PROFESI...
SALAM PROFESI...
HIMASEP JAYA...
.
.
.
Find Us On
Youtube : Himasep Jaya
Instagram : @himasepjaya

Mantap. Himasep jaya✊✨
ReplyDeleteHimasep Jaya✨
ReplyDeleteHIMASEP JAYA 💪
ReplyDelete