"PERINGATAN HARI PENDIDIKAN NASIONAL HIMASEP UNTAD" (Bidang Advokasi)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum warahmatullahi wabbarakatu. 

"Senin tanggal 02/05/2021"
     
 HIMASEP UNTAD, Telah melaksanakan diskusi santai yang dilaksanakan di Universitas TADULAKO, Fakultas Pertanian, Sekretariat HIMASEP, dengan

TEMA : "SEBERAPA PENTING PENDIDIKAN BAGI KAUM PETANI"

(Dengan pematik yaitu,Moh. Afandi dan moderator yaitu, Ilham I Musa.)

    Pendidikan adalah cara terbaik untuk mendobrak kemajuan pertanian dalam mensejahterakan petani, baik itu secara formal maupun non formal, karna dengan pendidikan petani mendapatkan pengetahuan untuk bisa berkreasi dalam mengembangkan segala bentuk pertanian, dari pembibitan, penanaman, pemanenan, hingga sampai kepada pengolahan hasil pertanian itu menjadi dalam bentuk sebuah produk atau barang jadi. Tentunya hal ini tidak lepas dari dukungan pemerintah, sebagai pembuat kebijakan khusunya di bidang pertanian..

   Sekali kita berbicara tentang petani, di situlah kita berbicara tentang kaum tani. Kita dapat menjumpai para tuan tanah, petani penggarap, kapitalis pertanian, buruh tani (istilah Tan Malaka atau proletar tanah) petani gurem dan petani menengah.

  • Tuan tanah adalah orang yang memiliki tanah berhektar-hektar dan menyewakannya kepada para penggarap.   
  • Kapitalis pertanian adalah orang yang memiliki tanah berhektar-hektar dan menjadikannya lahan-lahan agrobisnis (para kapitalis pertanian).
  • Petani gurem adalah orang yang hanya memiliki dan menggarap sejengkal tanah untuk mempertahankan hidup.
  • Petani penggarap adalah orang yang menyewa dan menggarap tanah orang lain, dengan hasil “bersih” yang hanya bisa digunakan untuk menyambung hidup.
  • Buruh tani adalah orang yang menjual tenaga mereka kepada para kapitalis pertanian dan bekerja di lahan-lahan agrobisnis mereka, demi sepeser upah yang hanya bisa digunakan untuk bertahan hidup.
  • Petani menengah (farmer) adalah orang yang memiliki lahan yang diandalkan untuk menghasilkan panenan yang bisa “dilempar” ke pasar hasil-hasil pertanian namun sangat bergantung pada kebijakan pemerintah terhadap pasar tersebut.

Dari pembahasan di atas kita dapat menemukan setidaknya 3 hal yaitu :

   Pertama, eksploitasi (penghisapan) secara langsung dan vulgar terjadi di antara tuan tanah dan kapitalis pertanian di satu sisi dan petani penggarap dan buruh tani di sisi lain. Dengan kata lain, tuan tanah dan kapitalis pertanian adalah kaum penghisap, sedangkan petani penggarap dan buruh tani adalah kaum yang terhisap.

    Kedua, petani gurem dan petani menengah tidak mengalami penghisapan secara langsung dan vulgar, tetapi menjadi pihak yang selalu kalah. Petani gurem berusaha bertahan hidup dengan menggulati tanah yang hanya sejengkal, “kemurahan” alam, dan hama, dengan perkakas pertanian yang sederhana serta dibebani harga pupuk, tengkulak, dan rentenir. Kekalahan dalam pergulatan itu akan membuatnya menjadi buruh tani atau pergi mencari pekerjaan di kota dengan kemungkinan menjadi buruh, kuli bangunan atau malah menjadi pengayuh becak. 

    Sedangkan petani menengah berusaha mengembangkan perekonomiannya di hadapan tantangan alam dan hama di satu sisi serta kapitalis pertanian di sisi lain. Sehubungan dengan tantangan alam dan hama, serta harga pupuk, tengkulak, dan rentenir petani menengah relatif lebih kuat daripada petani gurem. Tapi ketika berhadapan dengan kapitalis pertanian, yang bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah terhadap pasar, petani menengah tidak berdaya. Padahal kekalahan dalam pertarungan dengan kapitalis pertanian akan berdampak pada kemampuannya dalam menghadapi “musuh-musuh”. Bila cukup beruntung, ia bisa bertahan untuk beberapa waktu lamanya. Bila tidak, ia akan terhempas dan menjadi petani gurem bahkan bangkrut dan menjadi buruh tani. Bila cukup “cerdik”, dan pada saat yang sama si kapitalis pertanian “berbaik hati”, petani menengah akan menginduk pada si kapitalis pertanian, menjadi mitra junior si kapitalis pertanian, dan menjadi kaum yang dieksploitasi namun hampir pasti menerima tetesan-tetesan berkat dari si kapitalis pertanian.

    Ketiga, semua wujud dari kalangan petani mempunyai hubungan yang langsung walaupun beragam kepemilikan tanah. Bagi para tuan tanah, kapitalis pertanian, dan petani menengah, fungsi utama tanah adalah untuk mendatangkan profit (keuntungan). Sedangkan bagi para petani gurem, petani penggarap, dan buruh tani, fungsi utama tanah adalah subsistensi, yakni untuk mempertahankan hidup mereka dan keluarga mereka.

    Dalam kenyataannya, sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa pemberontakan-pemberontakan kaum tani kecil memiliki ciri yang sama yaitu menuntut kepemilikan pribadi atas tanah. Sejarah juga menunjukkan bahwa dalam tiap-tiap konflik agraria, petani gurem dan petani menengah berusaha mempertahankan kepemilikan pribadi mereka atas tanah, demikian juga para tuan tanah dan kapitalis pertanian.

   Jika kita berbicara tentang Indonesia yang merupakan negara pertanian, yang artinya pertanian memegang peranan yang sangat penting sebagai penggerak ekonomi negara. Selain diuntungkan oleh kondisi iklim dan sumber daya alam yang mendukung, pertanian di Indonesia juga didukung oleh sumber daya manusianya. Sehingga negara Indonesia dikatakan sebagai negara agraris yang cukup produktif. Sehingga pendidikan sangat penting bagi kesejahteraan petani.

    Sebenarnya pertanian bukan hanya penting untuk menstabilkan ekonomi negara. Tetapi, pertanian juga sangat penting untuk kelangsungan hidup, dengan bertani kita bisa bertahan hidup, dengan bertani pula kita bisa sejahtera. Hanya saja sampai saat ini kita belum bisa merasakan hal tersebut dikarenakan kurangnya kesadaran kita dalam memandang dunia pertanian.

   Kenapa hasil pertanian di Indonesia masih begini-begini saja? Karena para petani juga bercocok tanam dengan cara begini-begini saja, tidak ada kemajuan, kebiasaan-kebiasaan yang sering mereka lakukan dari tahun ke tahun, yaitu kebanyakan dari petani pada saat melakukan penanaman dan panen mereka bersemangat, tetapi pada saat melakukan perawatan mereka acuh tak acuh.

    Hal ini terjadi karena mereka masih kurang memahami bahwa perawatan merupakan salah satu yang penting dalam bercocok tanam. Selain itu, semakin hari petani juga semakin kurang, karena rata-rata petani sekarang sudah memasuki usia senja, jadi tenaga mereka sudah mulai berkurang, ditambah lagi kurangnya minat anak muda untuk menjadi seorang petani karena kebanyakan dari mereka belum paham tentang dunia pertanian.

    Salah satu kendala yang selalu membuat para petani gagal dalam meningkatkan hasil pertanian, yaitu mereka masih ikut-ikutan terutama dalam menggunakan produk untuk bercocok tanam. Padahal mereka belum mengetahui isi, kandungan, manfaat dan efek samping yang ditimbulkan dari produk tersebut.

   Misalnya, ada petani yang bertanya ke petani yang lain untuk meminta solusi pupuk yang bagus digunakan untuk tanamannya. Kemudian petani tersebut menyebutkan merek pupuk yang katanya bagus itu tanpa bertanya terlebih dahulu tentang ciri-ciri tanamannya tersebut. Jadi, jangan heran kalau tanaman yang kita harapkan pertumbuhannya cepat justru mengalami pertumbuhan yang lambat.Salah satu kendala yang selalu membuat para petani gagal dalam meningkatkan hasil pertanian, yaitu mereka masih ikut-ikutan terutama dalam menggunakan produk untuk bercocok tanam. Padahal mereka belum mengetahui isi, kandungan, manfaat dan efek samping yang ditimbulkan dari produk tersebut.

    Misalnya, ada petani yang bertanya ke petani yang lain untuk meminta solusi pupuk yang bagus digunakan untuk tanamannya. Kemudian petani tersebut menyebutkan merek pupuk yang katanya bagus itu tanpa bertanya terlebih dahulu tentang ciri-ciri tanamannya tersebut. Jadi, jangan heran kalau tanaman yang kita harapkan pertumbuhannya cepat justru mengalami pertumbuhan yang lambat.

    Hal ini terjadi, karena kita memberikan pupuk ke tanaman tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh tanaman, saat tanaman membutuhkan unsur posfor kita kasih unsur nitrogen sehingga respon tanaman menjadi lambat.

    Kemudian penggunaan merek pestisida yang sama dapat mengakibatkan resiko gagal panen karena pada saat kita mengendalikan hama selalu menggunakan merek pestisida yang sama, hama tersebut akan mengalami kekebalan tubuh sehingga resisten terhadap pestisida yang kita gunakan, jika hal ini terjadi terus menerus lama kelamaan akan terjadi peledakan hama. Jika sudah terjadi peledakan hama, maka sulit lagi untuk dikendalikan .

  Selain itu, petani juga belum konsisten dalam bertani karena yang sering terjadi selama ini kebanyakan petani masih melihat harga dari hasil pertanian. Misalnya petani menanam kakao, tiba-tiba petani tersebut mendengar harga kelapa sawit naik ditebanglah kakaonya dan digantikan dengan tanaman kelapa sawit. Lagi-lagi ini terjadi karena kurangnya pemahaman mereka tentang siklus pertanian bahwa yang namanya harga hasil produksi memang selalu naik turun. Sehingga peristiwa seperti ini terkadang membuat para petani pesimis karena mereka selalu gagal dalam bertani.

   Dikondisi seperti ini lulusan pertanian sangat berperan penting dalam memberikan contoh yang baik sebagai generasi penerus bangsa untuk meningkatkan sektor pertanian di negara kita. Sudah saatnya kita untuk muncul dipermukaan, kita adalah para ahli pertanian yang sudah dipercayakan untuk membantu dan mengarahkan para petani. Kasihan para petani yang masih bingung memikirkan hasil panennya yang selalu dibawah standar, bahkan mereka, selalu mengalami gagal panen. Hal ini, disebabkan karena adanya berbagai macam masalah yang mereka hadapi dilapangan baik dari serangan hama dan penyakit ataupun dari masalah musim yang sulit mereka prediksi. Padahal menurut para petani, mereka sudah melakukan cara bercocok tanam yang baik. Nah, ini merupakan salah satu fungsi kita sebagai lulusan pertanian untuk mencarikan solusi dari setiap masalah yang mereka temukan di lapangan.

    Lulusan pertanian bisa mengarahkan para petani agar terbiasa menggunakan bahan organik. Bahan organik memiliki banyak kelebihan seperti memperbaiki struktur tanah, membantu mempercepat proses pertumbuhan karena mangandung unsur hara yang lengkap, ekonomis, mudah didapatkan dan ramah lingkungan. Selain itu, bahan organik juga aman untuk digunakan, semakin banyak digunakan di tanah semakin bagus karena bakteri menguntungkan yang terdapat dalam bahan organik akan membantu dalam proses menyuburkan tanah. Ketika tanah subur, otomatis pertumbuhan tanaman akan semakin bagus.

  Saat ini, salah satu faktor yang menjadi kendala adalah kesadaran kita masih kurang dalam memandang pentingnya dunia pertanian. Sehingga masyarakat masih meremehkan bahwa sektor pertanian di negara kita bisa meningkat. Padahal kita mengetahui sektor pertanian merupakan kebutuhan negara dalam melawan berbagai macam krisis.

    Terkadang harus terjadi bencana dulu, seperti pandemi yang terjadi saat ini barulah kita sadar betapa pentingnya bahan makanan yang dihasilkan oleh sektor pertanian ataukah kita harus kesusahan dulu, agar kita sadar bahwa hanya tolong menolong kepada orang terdekatlah yang dapat membantu dan haruskah kita berada dikondisi seperti ini, baru bisa menyadarkan kita bahwa yang menjadi tumpuan kita saat ini adalah petani lokal. Maka dari itu, pembangunan sektor pertanian jangan dilupakan bahkan sangat perlu perhatian dan fokus pemerintah, agar sektor pertanian kita bisa berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan.

   Pertanian di Indonesia bisa saja meningkat, jika memiliki perhatian yang cukup serius dari pemerintah serta lulusan pertanian dan para petani juga memiliki peranan yang sangat penting dalam menjalin kerjasama yang baik untuk mengembangkan sektor pertanian. Sebab pertanian bisa berkembang jika ada campur tangan dari ahlinya yaitu para lulusan pertanian. Setiap tahun lulusan pertanian semakin meningkat tetapi minat untuk bergabung di lingkungan pertanian masih kurang, sehingga ini merupakan salah satu faktor sektor pertanian kita masih stagnan. Padahal lulusan pertanian bisa menciptakan inovasi-inovasi baru untuk membuat produk-produk organik yang dapat membantu petani dalam meningkatkan kualitas hasil pertanian, mereka juga bisa mengarahkan petani dalam bercocok tanam yang baik dan benar sesuai dengan ilmu yang mereka dapatkan serta petani bisa optimis bekerja dalam mengelola lahannya dengan baik.

  Jangan harap sektor pertanian kita bisa berkembang jika hubungan antara pemerintah, lulusan pertanian dan para petani belum terjalin dengan baik. Salah satu cara supaya keinginan kita bisa terwujud, yaitu saling mendukung satu sama lain karena jika kita hanya sekedar saling mengharap, masyarakat terus berharap kepada pemerintah, sedangkan pemerintah sendiri pun juga berharap kepada petani. Kapan kita bisa mewujudkan impian untuk meningkatkan hasil pertanian, jika kita masih terus-terusan seperti ini selalu mengharap sesuatu yang belum pasti. Saat ini, bukan lagi waktunya untuk saling berharap.

Sekarang waktunya untuk berkerjasama dan konsisten dalam membangun pertanian di Indonesia dengan cara pemerintah harus memperhatikan sarana dan pra sarana yang dapat menunjang sektor pertanian, lulusan pertanian harus fokus memberikan arahan dan serius dalam menangani berbagai macam masalah yang dihadapi oleh petani serta petani harus konsisten pada saat melakukan bercocok tanam dan optimis dalam mengelolah lahannya. Sebab, kita tahu selain pertanian bisa menjadi penggerak ekonomi negara, pertanian juga bisa menyejahterakan hidup kita. Buktikan, jika negara kita dikatakan sebagai negara agraris, maka tidak ada lagi yang merasa kesusahan dan kelaparan, semua akan terlihat bahagia. pentingnya pendidikan bagi kesejahteraan petani.

    Adapun mengenai BUMDes, petani harus bisa memahami manfaat dari BUMDes tersebut. Pedoman bagi daerah dan desa dalam pembentukan dan pengelolaan BUMDes Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yaitu mengacu pada Permendesa Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa. Kita masih mendapati ratusan bahkan sampai ribuan desa yang bahkan sampai hari ini belum mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pun yang sudah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) masih terkesan hanya papan nama dan mati suri.

    Tidak adanya pemahaman bersama untuk kita ketahui, bahwa pemahaman bersama mengenai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) belum benar-benar sampai kepada masyarakat. Hal ini diawali dari pemahaman perangkat desa terutama kepala desa mengenai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang juga masih sangat kurang. Kondisi ini dikarenakan selama ini posisi perangkat desa dan kepada desa adalah hanya pelaksana tugas atau sebagai kepanjangan tangan dari struktur pemerintah di atasnya yaitu lebih banyak berurusan dengan masalah administrasi dan menanggungjawab proyek dan program yang datang dari atas.

    Oleh karena itu keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tidak serta merta dapat dipahami, perlu kerja keras untuk benar-benar dapat memahami Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang lebih bertumpu pada masalah kewirausahaan dan kemandirian ekonomi desa. Karena pemahaman mengenai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di kalangan perangkat desa masih sangat lemah, maka wacana Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tidak tersosialisasi dengan baik kepada warga desa. Sehingga tidak tumbuh pemahaman bersama tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan urgensi dari pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bagi desa dan masyarakat.

    Kemudian tidak ada keterbukaan informasi publik di desa yang masih menjadi kendala yang banyak kita temukan di desa-desa. Pusat informasi masih berada di antara elite desa, belum sampai kepada masyarakat secara luas. Sehingga isu-isu penting, program-program yang ada hanya diketahui oleh segelintir orang atau elite-elite desa. Ketidak tahuan masyarakat atas informasi penting seputar desa menjadikan program hanya diisi atau diikuti oleh orang itu-itu saja, atau istilahnya lingkaran keluarga perangkat desa dan kepala desa.

    Maka, ketika mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) pun pada akhirnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam kepengurusan atau strukturnya diisi oleh orang-orang dekat kepala desa atau bahkan keluarganya sendiri. Bisa ditebak, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) kemudian berdiri seperti badan usaha milik keluarga, usaha yang dijalankan pun tidak berdampak pada kemaslahatan masyarakat.

    Maka tidak heran jika Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang diawali dari sistem semacam ini kemudian mati suri karena dalam proses usaha tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat sebagai bagian dari modal sosial dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

    Dan yang paling bermasalah yaitu adanya perilaku koruptif yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah juga kita sebagai warga negara. Perilaku ini sangat mencederai prinsip bernegara sebagai sebuah bangsa yang besar berlandaskan hukum dan moral. Banyaknya perilaku kekuasaan yang koruptif pada struktur atas, menciptakan perubahan sosial untuk masyarakat menjadi loyo dan tidak mendapatkan tempat.

    Perilaku koruptif di kalangan atas tidak menutup kemungkinan perilaku yang sama juga terjadi di kalangan pemerintah desa. Walau perih, kita masih harus menerima kenyataan bahwa masih ada ratusan kepala desa yang saat ini menghadapi meja hijau karena diduga menyalahgunakan dana desa untuk kepentingan dirinya sendiri atau kepentingan kelompok.


Sekian

Hormat kami bidang advokasi

Salam cinta

Salam perjuangan

Karena atas nama cinta kita berjuang.


                #Dokumentasi Multimedia Himasep

SALAM PROFESI...

SALAM PROFESI...

SALAM PROFESI...

HIMASEP JAYA...

.

.

.

Find Us On


Email : himasepjaya@gmail.com

Youtube : Himasep Jaya
Instagram : @himasepjaya
Facebook : Himasep Jaya
.
.
.
#HIMASEP#HIMASEPJAYA#AGRIBISNIS#UNTAD#Periode2021#Universitastadulako#Mahasiswa#Palu#Sulawesitengah#Pertanian

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

STRUKTUR KEPENGURUSAN HIMPUNAN MAHASISWA SOSIAL EKONOMI PERTANIAN (HIMASEP) FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TADULAKO PERIODE 2022